Rhoma Irama Kritik Habib Rizieq: "Jangan Dirikan Khilafah di Indonesia, Pergi ke Yaman!"

Perseteruan wacana antara Raja Dangdut Indonesia, Rhoma Irama, dengan pimpinan Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Syihab, kembali memanas.
Warta Batavia - Jakarta – Perseteruan wacana antara Raja Dangdut Indonesia, Rhoma Irama, dengan pimpinan Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Syihab, kembali memanas. Dalam sebuah podcast terbarunya, Rhoma Irama dengan tegas membantah tudingan bahwa dirinya menerima bayaran atau perintah dari pihak istana untuk membuat konten tertentu.

Bahkan, pria yang akrab disapa Haji Romi ini memberikan kritik pedas sekaligus nasihat kepada Habib Rizieq dan para pengikutnya yang dinilai memiliki obsesi mendirikan khilafah di Indonesia.


Berikut ringkasan pernyataan eksplisit Rhoma Irama yang dilansir dari cuplikan podcast tersebut, meliputi bantahan, kritik, hingga seruan agar umat Islam tidak mudah terprovokasi.

Bantahan Keras: Demi Allah, Tidak Ada yang Bayar Saya


Dalam cuplikan berdurasi beberapa menit tersebut, Rhoma Irama memulai dengan merespons tudingan Habib Rizieq yang disebutnya berprasangka buruk (suuzon).

"Masyaallah, Saudara Muhammad Rizieq Syihab yang berprasangka buruk terhadap saya, bahwa selama ini podcast Rhoma Irama itu ada yang suruh, ada yang bayar. Wow," ujar Rhoma dengan nada bersemangat.

Rhoma Irama bersumpah demi nama Allah (Wallahil Adzim) bahwa sejak dirinya berjuang membela Partai Persatuan Pembangunan (PPP) pada tahun 1977 hingga menjalani podcast saat ini, tidak pernah sekalipun ia diperintah atau dibayar.

"Saya datang ke ketua umum, saya katakan, 'Assalamualaikum, saya numpang jihad untuk membela Islam di P3 saat itu. Numpang jihad, bukan minta dibayar, tapi saya yang membiayai semua operasional saya," kenang Rhoma.

Ia menegaskan bahwa semua konten yang dibuatnya murni atas dasar hidayah dan keterpanggilan dari Allah Subhanahu wa taala, bukan atas perintah siapapun.

Nasiat Pedas untuk Habib Rizieq: Jangan Jadi Musuh Bangsa


Memasuki inti kritik, Rhoma Irama menyoroti obsesi pendirian khilafah yang dinilainya mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

"Saran saya kepada Masyaallah sahabat saya ini Muhammad Rizieq Syihab dan teman-temannya. Teman-teman yang berobsesi ingin mendirikan khilafah di sini. Kalau mau mewujudkan menjadi khalifah, jangan di Indonesia," tegas Rhoma.

Ia mengingatkan bahwa para founding fathers telah sepakat mendirikan negara berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Konsensus nasional yang telah berlangsung selama hampir 80 tahun ini, menurut Rhoma, tidak boleh diubah.

Dengan nada sinis namun keras, Rhoma memberikan solusi alternatif:

"Kalau antum kepengin jadi khalifah, di Yaman itu keren. Bikin kerajaan, bikin negara model apa di sana, jangan di sini. Kalau di sini, Masyaallah, ribut, perang, berantem. NKRI bersyariah itu benar, Yaman bersyariah itu benar. Kalau di Indonesia, Anda menjadi musuh bangsa."

Mengupas Isu Ba'alawi: Antara Klaim Nasab dan Data Sejarah


Tidak hanya menyoroti isu khilafah, Rhoma Irama juga menyentuh polemik seputar golongan Ba'alawi (para habib) dan klaim keturunan Nabi.

Rhoma mengkritik fenomena pengkultusan individu hanya karena status keturunan, tanpa didasari ilmu dan akhlak. Ia menyoroti data-data ilmiah dan sejarah (filologi) yang dinilainya sudah tidak nyambung dengan klaim nasab yang dipaksakan.

"Jangan dipaksakan. Mohon maaf. Allah jadikan kita berbangsa-bangsa untuk saling mengenal, dan yang paling mulia adalah yang paling bertakwa. Berlomba-lombalah menjadi orang takwa, bukan berlomba menguasai negeri orang dengan siasat licik," ujarnya.

Ia juga mencontohkan fenomena pasir Tarim yang diklaim berkah karena bekas telapak kaki wali, sembari membandingkannya dengan Kota Makkah dan Madinah yang tetap diaspal meski banyak bekas nabi.

Waspada "Penjajahan Spiritual" Ala Ba'alawi


Salah satu poin paling menarik dari kritik Rhoma adalah soal penamaan acara haul (peringatan wafatnya ulama). Rhoma mengklaim bahwa penamaan "Haul Solo" atau "Haul Gresik" merupakan bentuk klaim wilayah atau "penjajahan spiritual".

"Contoh, Haul Solo itu punya Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi. Dia lahir di Yaman, meninggal di Yaman, tapi dihaulin di Solo. Dengan mengatakan Haul Solo, dia telah mengklaim bahwa Solo itu punya Habib Ali. Solo itu ada yang punya, ada sultannya, ada pemerintahnya," kritik Rhoma.

Hal serupa disampaikannya untuk "Haul Gresik" yang dinilainya menghina Wali Songo, khususnya Sunan Gresik.

Seruan Akhir: Introspeksi dan Jaga NKRI


Di akhir pernyataannya, Rhoma Irama mengajak seluruh elemen umat Islam, khususnya para muhibbin (penggemar habib), untuk mengoreksi keyakinan mereka. Ia meminta masyarakat untuk tidak lagi mengkultuskan individu secara buta dan mulai menilai seseorang dari iman, akhlak, serta ilmunya.

"Jaga Islam, jaga Indonesia. Waspadalah. Coba nilai habib-habib itu, lihat imannya gimana, akhlaknya gimana, ilmunya gimana," pungkas Rhoma.

Pernyataan Rhoma Irama ini dipastikan akan menjadi bahan perdebatan hangat di kalangan umat Islam Indonesia, mengingat pengaruh besar kedua tokoh tersebut di masyarakat. (Qodrat Arispati)


Disclaimer: Artikel ini disusun berdasarkan rekaman pernyataan tokoh masyarakat. Tujuan penulisan adalah untuk menyebarkan informasi faktual dan edukasi kebangsaan.

Simak langsung videonya di YouTube: 
 


LihatTutupKomentar